Santri Tidak Cukup Dicintai, Santri Harus Membuktikan Diri

Refleksi Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026
Sejak berabad-abad silam, santri telah menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa ini. Di lingkungan pesantren yang sederhana, di antara sarung, kitab kuning, dan lantunan doa, tumbuh generasi yang belajar memahami agama, membentuk akhlak, serta mempersiapkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat.
Namun, perjalanan panjang itu tidak selalu diiringi penghargaan yang layak. Sosok santri kerap ditempatkan dalam stereotip yang merendahkan. Santri dianggap kampungan, kuno, jumud, kurang berwawasan, bahkan dicitrakan sebagai kelompok yang gagap menghadapi modernisasi. Sarung yang dikenakan menjadi bahan olok-olok, seperti olok-olok santri budug, kesederhanaan pesantren dianggap sebagai keterbelakangan, dan tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama terkadang dipandang sebelah mata.
Zaman telah berganti. Teknologi berkembang, peradaban bergerak, dan masyarakat memasuki era yang semakin modern. Akan tetapi, sebagian stereotip terhadap santri seolah tidak ikut berubah. Seakan-akan mengenakan sarung berarti tertinggal, mempelajari kitab klasik berarti tidak mengenal masa depan, dan hidup di pesantren berarti membatasi diri dari kemajuan zaman.
Padahal, bukankah kesederhanaan tidak selalu berarti ketertinggalan? Bukankah tradisi tidak selalu bertentangan dengan inovasi? Dan bukankah seseorang dapat mempelajari kitab kuning pada malam hari, lalu mendiskusikan matematika, ekonomi, teknologi, bahkan kecerdasan buatan pada keesokan harinya?
Sarung tidak menghalangi seseorang untuk berpikir besar. Kitab kuning tidak menutup jalan menuju ilmu pengetahuan modern. Dan kehidupan pesantren tidak seharusnya menjadi batas bagi luasnya cita-cita.
Menariknya, meskipun kerap dipandang sebelah mata, pesantren tetap dicintai dan dipercaya, melebihi kepercayaan terhadap lembaga pendidikan lain. Jumlah pesantren dan santri terus bertumbuh baik di desa maupun di kota. Kepercayaan tersebut tentu tidak hadir tanpa alasan. Di baliknya ada ketulusan para kiai, kesabaran para guru, pengorbanan para pengasuh, serta keikhlasan para santri yang menjalani pendidikan dalam kesederhanaan.
Masyarakat menitipkan anak-anaknya ke pesantren karena percaya, bukan semata-mata untuk memperoleh pengetahuan agama, melainkan juga untuk belajar tentang adab, kedisiplinan, kemandirian, kesabaran, dan tanggung jawab.
Ada amanah besar yang dipercayakan kepada pesantren, yaitu membentuk manusia yang tidak hanya mengetahui kebaikan, tetapi juga berusaha menjalankannya dalam kehidupan.
Kepercayaan itulah yang harus dijaga.
Para kiai telah memberikan teladan melalui pengabdian. Generasi terdahulu telah merawat tradisi keilmuan dengan segala keterbatasan.
Sekarang, pertanyaannya adalah: apa yang akan dilakukan oleh generasi santri hari ini?
Jawabannya tidak cukup dengan berbangga diri sebagai santri. Tidak cukup pula dengan mengenang jasa para ulama, mengibarkan bendera, mengenakan pakaian terbaik, atau merayakan Hari Santri dengan berbagai kegiatan seremonial. Semua itu memiliki makna, tetapi ada tanggung jawab yang lebih besar setelah perayaan berakhir.
Santri harus belajar lebih sungguh-sungguh.
Jika dahulu para ulama berjuang agar umat tidak kehilangan ilmu dan pegangan hidup, santri hari ini harus melanjutkan perjuangan tersebut dengan menguasai ilmu pengetahuan yang semakin luas.
Mengaji harus semakin mendalam, membaca harus semakin tekun, berpikir harus semakin kritis, dan wawasan harus semakin terbuka.
Santri perlu menguasai ilmu agama. Santri juga perlu mempelajari matematika, sains, bahasa, ekonomi, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk menjawab persoalan zaman. Bukan untuk meninggalkan tradisi pesantren, melainkan untuk memperluas kemampuan dalam menjalankan amanah kehidupan.
Dunia hari ini membutuhkan orang yang saleh, juga orang yang mampu menyelesaikan persoalan.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kejujuran, tetapi juga orang yang mampu membangun sistem yang adil. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang mencintai masa lalu, tetapi juga generasi yang sanggup merancang masa depan.
Di sinilah santri memiliki kesempatan untuk menunjukkan kualitas dirinya.
Santri yang tekun mengaji sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan. Santri yang santun dalam pergaulan sekaligus tajam dalam pemikiran. Santri yang teguh memegang prinsip sekaligus terbuka terhadap pembaruan. Santri yang rendah hati, tetapi tidak rendah diri. Santri yang menghormati tradisi, tetapi tidak takut berinovasi.
Tentu, pembuktian itu tidak dilakukan dengan kemarahan kepada mereka yang merendahkan. Tidak pula dengan sibuk menuntut pengakuan atau membandingkan diri dengan kelompok lain. Pembuktian terbaik justru lahir dari kualitas pribadi, keluasan ilmu, kedalaman akhlak, dan manfaat nyata yang diberikan kepada masyarakat.
Biarkanlah prestasi menjadi jawaban. Biarlah karya menjawab keraguan. Biarlah akhlak menjawab penghinaan. Dan biarlah ilmu menjadi bukti bahwa santri mampu berdiri sejajar, berkontribusi, bahkan tampil sebagai pelopor dalam berbagai bidang kehidupan.
Hari Santri Nasional semestinya menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang generasi santri menghadapi masa depan. Penghormatan terhadap sejarah tidak boleh membuat santri berhenti melangkah. Kebanggaan terhadap identitas tidak boleh membuat santri merasa telah selesai belajar.
Wahai para santri, jangan pernah merasa kecil hanya karena mengenakan sarung. Jangan merasa tertinggal hanya karena tekun mempelajari kitab-kitab klasik. Namun, jangan pula menjadikan kebanggaan sebagai santri sebagai alasan untuk berhenti berusaha.
Perdalam ilmu, perluas wawasan, latih kemampuan berpikir, bangun keterampilan, dan rawat akhlak.
Gunakan waktu muda untuk membaca lebih banyak, bertanya lebih berani, berdiskusi lebih sehat, dan berlatih lebih tekun. Jangan biarkan waktu di pesantren berlalu hanya sebagai rutinitas mengaji, sekolah, makan, dan tidur. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih berilmu dan lebih bermanfaat.
Masyarakat telah memberikan kepercayaan. Para kiai telah memberikan teladan. Para pendahulu telah mewariskan tradisi keilmuan dan pengabdian. Kini, giliran generasi santri membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak salah diberikan.
Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober.
Teruslah mengaji, teruslah belajar, teruslah bertumbuh. Jangan hanya mewarisi nama besar pesantren, tetapi persiapkan diri untuk meneruskan kebesarannya melalui ilmu, akhlak, karya, dan pengabdian.


